HomeBlogWisatawan “Angkat Kaki” dari Gili Trawangan Akibat Krisis Air Bersih

Wisatawan “Angkat Kaki” dari Gili Trawangan Akibat Krisis Air Bersih

Mataram (Suara NTB) – Krisis air bersih yang melanda Gili Trawangan mulai berdampak serius terhadap industri pariwisata. Sejumlah wisatawan mancanegara membatalkan perjalanan, sementara sebagian lainnya memilih memperpendek masa tinggal karena khawatir kebutuhan air selama berlibur tidak terpenuhi.
Ketua Asosiasi Hotel Gili Trawangan, Lalu Kusnawan, mengatakan kondisi tersebut mulai dirasakan pelaku usaha perhotelan. Bahkan, tingkat pembatalan reservasi disebut telah mencapai sekitar 40 persen.
“Sudah mulai banyak tamu yang cancel (membatalkan). Mereka tidak yakin dengan kondisi air di Gili Trawangan,” kata Kusnawan, Minggu, 6 September 2026.
Menurutnya, pengelola hotel saat ini terpaksa memberitahukan kepada tamu mengenai kondisi krisis air dan meminta dilakukan efisiensi penggunaan air. Sejumlah fasilitas seperti kolam renang juga tidak dapat digunakan secara optimal.
Persoalan tidak hanya terjadi di hotel. Wisatawan juga mempertanyakan ketersediaan air di restoran, tempat wisata, maupun fasilitas umum lainnya di Gili Trawangan.
“Kalau mereka mau keliling, bagaimana? Mereka bertanya bagaimana restoran lain, bagaimana tempat lainnya. Kita sulit menjamin karena yang bisa kita pastikan hanya kondisi di properti masing-masing,” ujarnya.
Kusnawan menyebut dampak krisis air terhadap tingkat hunian hotel sudah sangat terasa. Selain pembatalan reservasi, sejumlah wisatawan juga memilih memperpendek masa tinggal mereka.
“Cancellation sekitar 40 persen. Sebagian juga memperpendek waktu tinggal,” jelasnya.
Bahkan, ia mengaku mengetahui adanya pemilik hotel yang memilih menghentikan penerimaan tamu untuk sisa kamar yang tersedia sepanjang September. Langkah itu diambil karena pengelola tidak ingin mengambil risiko apabila kebutuhan air tamu tidak dapat dipenuhi.
Kondisi ini, menurut Kusnawan, berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi pelaku usaha pariwisata di Gili Trawangan. Sebab, biaya yang harus dikeluarkan untuk mendatangkan air dari luar pulau juga sangat tinggi.
Untuk memenuhi kebutuhan operasional hotelnya, misalnya, ia harus mendatangkan sekitar 10 kubik air per hari. Biaya angkutnya saja mencapai sekitar Rp5 juta per hari, belum termasuk harga air dan biaya kapal.
“Rp5 juta itu baru ongkos angkut. Belum termasuk air dan ongkos kapal. Ini menjadi additional cost bagi kami. Tapi daripada hotel harus ditutup, kami tetap berupaya membeli air,” jelasnya.
Kusnawan mengingatkan, jika krisis air bersih berlangsung lama, dampaknya tidak hanya dirasakan hotel, tetapi bisa mengancam keberlangsungan destinasi wisata Gili Trawangan secara keseluruhan.
Menurut dia, penurunan kunjungan wisatawan akan berimbas pada seluruh mata rantai ekonomi pariwisata, mulai dari hotel, restoran, transportasi hingga tenaga kerja.
“Kalau ini berlarut-larut, yang kena destinasi. Hotel rugi dan bisa terjadi pengurangan karyawan. Satu minggu saja sudah berpengaruh, apalagi kalau sampai satu bulan,” tegasnya.
Ia khawatir wisatawan yang sudah terlanjur meninggalkan Gili Trawangan akan sulit kembali apabila persoalan tersebut tidak segera diselesaikan.
Sebab, menurutnya, persaingan antardestinasi wisata semakin ketat. Ketika Gili Trawangan mengalami persoalan, wisatawan memiliki banyak pilihan destinasi lain yang menawarkan pelayanan lebih pasti.
“Kalau wisatawan sudah pergi, nanti untuk recovery lagi pasti sulit. Industri pariwisata di kabupaten atau kota lain tidak tidur,” katanya.
Kusnawan menilai persoalan air bersih di Gili Trawangan sudah berada pada tahap yang sangat mendesak dan membutuhkan solusi konkret dari pemerintah daerah.
Ia menyebut pemerintah telah membahas penyediaan air dari daratan.
Menurut informasi yang diterimanya, Badan Usaha Milik Daerah Air Minum (BDAM) menyiapkan titik air di Muara Putat. Selanjutnya, kebutuhan air untuk Gili Trawangan harus diangkut sendiri menuju pulau tersebut.
“BDAM hanya menyiapkan air di Muara Putat sebagai titik pengambilan. Persoalannya sekarang, berapa meter kubik yang bisa disiapkan di sana? Karena kebutuhan di daerah juga masih banyak,” ujarnya.
Kusnawan berharap pemerintah segera memastikan skema pasokan air yang mampu memenuhi kebutuhan Gili Trawangan, terutama jika TCN yang disebut dalam pembicaraan tersebut mulai beroperasi. Kepastian pasokan dinilai penting agar pelaku usaha dapat memberikan jaminan pelayanan kepada wisatawan.
“Tadi malam saya telpon pak bupati (Lombok Utara), tapi pak bupati juga tidak bisa memberikan kepastian kapan air ini bisa on,” pungkasnya.(bul)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut