26.5 C
Mataram
BerandaNTBEkspor NTB Turun 79 Persen Akibat Mandeknya Komoditas Tambang

Ekspor NTB Turun 79 Persen Akibat Mandeknya Komoditas Tambang

Lombok (ekbisntb.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat nilai ekspor daerah ini hingga Agustus 2025 anjlok tajam sebesar 79,42 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Penurunan ini disebabkan mandeknya ekspor komoditas tambang sepanjang tahun 2025.

Kepala BPS NTB, Drs. Wahyudin, MM, dalam keterangan resmi di kantornya, Rabu, 1 Oktober 2025, menyebutkan nilai ekspor NTB pada Januari–Agustus 2025 hanya mencapai US$426,70 juta. Angka itu merosot jauh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Tidak adanya ekspor tambang menjadi penyebab utama turunnya ekspor kumulatif NTB,” jelasnya.

Meski begitu, ekspor non tambang justru mencatat lonjakan signifikan. Secara kumulatif, nilai ekspor non tambang meningkat hingga 1.388 persen pada periode Januari–Agustus 2025. Kenaikan ini ditopang oleh ekspor tembaga, emas, mutiara, serta udang yang terus menunjukkan tren positif.

Pada Agustus 2025 saja, nilai ekspor NTB tercatat sebesar US$102,68 juta, turun 77,14 persen dibanding bulan yang sama tahun 2024. Komoditas ekspor terbesar bulan itu adalah tembaga senilai US$60,21 juta (58,64 persen), disusul perhiasan atau permata sebesar US$39,70 juta (38,67 persen), ikan dan udang sebesar US$2,38 juta (2,32 persen), garam, belerang, kapur senilai US$255.985 (0,25 persen), serta biji-bijian berminyak senilai US$75.707 (0,07 persen).

Dari sisi negara tujuan, ekspor NTB pada Agustus 2025 paling banyak dikirim ke Swiss (36,44 persen), Thailand (14,15 persen), Tiongkok (13,46 persen), Korea Selatan (13,44 persen), dan Vietnam (10,42 persen). Sisanya sebesar 12,10 persen diekspor ke berbagai negara lainnya.

Sementara itu, nilai impor NTB pada Januari–Agustus 2025 juga menurun 75,94 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Total nilai impor tercatat sebesar US$188,15 juta. Penurunan terutama terjadi pada kelompok barang modal serta bahan baku dan penolong. “Kondisi ini menunjukkan aktivitas produksi yang relatif menurun dibanding tahun sebelumnya,” terang Wahyudin.

Pada Agustus 2025, nilai impor NTB hanya mencapai US$17 juta atau turun 78,33 persen dibanding Agustus 2024. Komoditas impor terbesar adalah karet dan barang dari karet senilai US$9,14 juta (53,78 persen), mesin/pesawat mekanik sebesar US$5,97 juta (35,13 persen), bahan peledak US$1,13 juta (6,67 persen), produk kimia US$339.151 (1,99 persen), serta benda dari besi dan baja sebesar US$205.751 (1,21 persen).

Negara asal impor terbesar pada bulan itu adalah Jepang dengan porsi 54,85 persen, diikuti Filipina (10,60 persen), Tiongkok (9,32 persen), Amerika Serikat (6,42 persen), dan Turki (4,72 persen). Sementara 14,09 persen sisanya berasal dari berbagai negara lain.

Menurut BPS, data ini menjadi gambaran bahwa kinerja ekspor NTB pada 2025 sangat dipengaruhi oleh keberlanjutan aktivitas pertambangan. Di sisi lain, potensi ekspor non tambang terus menunjukkan peluang yang menjanjikan untuk menopang kinerja perdagangan daerah ke depan.(bul)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut