HomeBERANDASektor Tambang dan Pariwisata Pacu Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen di Triwulan...

Sektor Tambang dan Pariwisata Pacu Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen di Triwulan II 2026

Mataram (Ekbis NTB) — Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan kinerja impresif pada Triwulan II 2026. Berdasarkan laporan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, pertumbuhan ekonomi NTB melejit sebesar 7,41% secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,45% (yoy) maupun rata-rata kawasan Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, menyampaikan bahwa performa tinggi ini terutama ditopang oleh kinerja ekspor industri pengolahan/smelter, relaksasi izin ekspor konsentrat tembaga, serta konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.

“Pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan kedua didorong oleh melesatnya sektor pertambangan dan industri pengolahan, disokong momen perayaan Iduladha, long weekend, serta libur sekolah yang menggerakkan konsumsi masyarakat,” ujar Hario dalam forum Bincang Bareng Media (BBM) di Mataram, Rabu (2/9/2026).

- Advertisement -

Pertambangan dan Pertanian Dominasi Struktur Ekonomi

Secara sektoral, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB masih didominasi oleh dua sektor utama, yaitu Sektor Pertanian dengan pangsa 21,93% dan Sektor Pertambangan sebesar 20,02%.

  • Sektor Pertambangan mencatatkan lonjakan pertumbuhan paling signifikan sebesar 30,57% (yoy) pada Triwulan II 2026. Akselerasi ini dipicu oleh peningkatan produksi konsentrat tembaga dan optimalisasi operasional fasilitas smelter, di mana nilai ekspor pertambangan NTB menembus USD 620,04 juta.
  • Sektor Industri Pengolahan tumbuh sebesar 7,45% (yoy), yang didorong oleh upaya hilirisasi hasil tambang daerah.
  • Sektor Perdagangan tumbuh 4,33% (yoy) dengan kontribusi pangsa PDRB sebesar 13,94%, yang disokong oleh tingginya aktivitas penjualan kendaraan serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Sektor Pertanian mencatatkan pertumbuhan 2,54% (yoy), terutama didorong subsektor peternakan. Kendati demikian, produksi Gabah Kering Giling (GKG) terkontraksi hingga -14,84% (yoy) akibat pergeseran musim panen.

Geliat Pariwisata dan Penyerapan Tenaga Kerja

Sektor pariwisata yang diukur melalui tiga Lapangan Usaha (LU) penopang—yaitu Perdagangan, Transportasi (pangsa 5,74%), dan Akomodasi Makanan-Minuman (Akmamin, pangsa 5,66%)—memberikan kontribusi total 21,5% terhadap PDRB NTB.

Kinerja pariwisata ini juga menjadi motor penggerak ketenagakerjaan daerah:

  • Ketiga lapangan usaha penopang pariwisata tersebut menyerap 28% dari total tenaga kerja di NTB.
  • Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja tertinggi dicatatkan oleh sektor Akmamin yang melonjak 19,72% (yoy), disusul Perdagangan 9,67% (yoy), dan Pengangkutan/Transportasi 5,27% (yoy).

Hingga Juli 2026, akumulasi kunjungan wisatawan ke NTB mengalami kenaikan sebesar 5,34% (yoy), dengan destinasi terfavorit terkonsentrasi di Kota Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Tengah. Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika berbasis sport tourism juga terus digenjot menyambut gelaran balap internasional MotoGP pada Oktober mendatang.

Geliat Ekonomi Digital dan Sektor Keuangan

Di sisi sistem pembayaran dan keuangan daerah:

  1. QRIS Cross-Border Melesat: Penggunaan transaksi QRIS antarnegara tumbuh signifikan mencapai Rp20,03 miliar hingga Juli 2026. Transaksi didominasi oleh wisatawan asal Malaysia (Rp12,66 miliar) dan wisatawan Tiongkok (Rp6,54 miliar).
  2. Kinerja Perbankan: Kredit perbankan berdasarkan lokasi proyek tumbuh 4,37% (yoy) dengan nilai total Rp122,43 triliun dan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang sangat terjaga di level 1,87%. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp50,95 triliun atau tumbuh 3,33% (yoy).
  3. UMKM & Penjualan: Ajang Karya Kreatif NTB (KKNTB) 2026 mencatatkan transaksi sebesar Rp1,6 miliar, sedangkan pada pameran nasional Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta, UMKM NTB berhasil mengantongi omset sementara sebesar Rp3,4 miliar.

Pengendalian Inflasi dan Tantangan Musim Perayaan

Meskipun pertumbuhan ekonomi melaju kencang, Bank Indonesia mengimbau kewaspadaan terhadap tekanan inflasi. Pada Agustus 2026, NTB mencatatkan inflasi sebesar 0,57% (month-to-month/mtm) dan secara tahunan berada di level 4,03% (yoy)—di atas sasaran target nasional (2,5% ± 1%).

Penyumbang inflasi utama meliputi komoditas daging ayam ras (akibat lonjakan permintaan), cabai rawit, dan hasil perikanan. Menghadapi periode peringatan Maulid Nabi yang berlangsung selama satu bulan penuh di Lombok, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak di 10 kabupaten/kota serta meningkatkan pasokan hortikultura guna menjaga kestabilan daya beli masyarakat. (fan)

Artikel Yang Relevan

IKLAN




Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut