Mataram (ekbisntb.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi NTB tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan kerja dalam jumlah besar. Hingga saat ini, puluhan ribu tenaga kerja lokal telah terserap melalui operasional dapur MBG yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.
Dari sisi infrastruktur, sebanyak 717 SPPG telah aktif beroperasi, 778 SPPG telah ditetapkan, dan 345 SPPG masih dalam tahap persiapan atau pembangunan.
Ketua Satgas MBG NTB, Dr. H. Fathul Gani, M.Si, menjelaskan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG rata-rata mempekerjakan antara 45 hingga 47 orang tenaga kerja. Dengan jumlah SPPG yang telah ditetapkan sebanyak 778 unit, maka potensi serapan tenaga kerja mencapai sekitar 35 ribu orang.
“Terkait tenaga kerja, jika tiap SPPG mempekerjakan 45 sampai 47 orang, maka tinggal dijumlahkan saja. 45 dikali 778, maka total sekitar 35.010 tenaga kerja,” ujarnya, Kamis, 16 April 2026.
Ia menegaskan, angka tersebut menunjukkan bahwa program MBG memiliki dampak signifikan dalam mengurangi pengangguran di daerah. Bahkan, menurutnya, program ini berpotensi menekan angka pekerja migran asal NTB yang selama ini memilih bekerja ke luar negeri.
Asisten I Setda NTB menambahkan, dalam setiap dapur MBG, serapan tenaga kerjanya terdiri dari, Kepala dapur, pegawai gizi, pengawas keuangan, pengawas sanitasi, juru masak, asisten lapangan, persiapan bahan makanan, pengolahan bahan makanan, pemorsian, packing, distribbusi, petugas kebersihan, hingga pencuci alat makanan.
Selain menyerap tenaga kerja secara langsung di dapur, program MBG juga membuka peluang ekonomi di sektor pendukung.
“Jumlah maksimal tenaga kerja di setiap dapur juga menyesuaikan dengan jumlah penerima manfaat yang dilayani,” tambahnya.
Hingga laporan per 9 April 2026, pelaksanaan program MBG di NTB menunjukkan capaian signifikan. Total penerima manfaat telah mencapai 1.877.986 orang, yang terdiri dari balita, ibu hamil, ibu menyusui, pelajar, hingga tenaga pendidik.
Rincian penerima manfaat menunjukkan jangkauan program yang luas. Untuk kelompok ibu hamil tercatat 36.717 orang dan ibu menyusui sebanyak 91.646 orang, dengan total kelompok ini mencapai 236.292 orang.
Sementara itu, kelompok pelajar dan tenaga pendidik mendominasi penerima manfaat dengan jumlah mencapai 1.513.331 orang. Rinciannya meliputi PAUD 86.348 orang, RA 31.535 orang, TK 111.532 orang, SD 497.837 orang, MI 105.967 orang, SMP 167.395 orang, MTs 108.467 orang, SMA 110.692 orang, SMK 70.229 orang, MA 64.193 orang, SLB 2.834 orang, pondok pesantren 5.054 orang, PKBM 754 orang, SR SD 179 orang, SR SMP 173 orang, Anak Tidak Sekolah (ATS) kurang dari 9 tahun 234 orang, ATS usia 9–18 tahun 133 orang, guru 132.873 orang, serta tenaga kependidikan 18.383 orang.
Fathul Gani menegaskan, pihaknya terus melakukan pembinaan dan pengawasan secara terpadu bersama Badan Gizi Nasional (BGN) di daerah serta Satgas MBG di setiap kabupaten/kota. Hal ini dilakukan untuk memastikan program berjalan optimal dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
“Kita terus melakukan pembinaan dan pengawasan secara terpadu serta terkoordinasi dengan organ BGN di daerah serta Satgas MBG di tiap kabupaten/kota, guna memastikan program ini berjalan dengan baik. Ini sebagai wujud keseriusan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk menyukseskan MBG,” tegasnya.(bul)






