Sebagai wujud implementasi pembelajaran berbasis pengalaman langsung (experiential learning), mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Hamzanwadi baru-baru ini melaksanakan Kuliah Lapangan Etnomatematika dan Pembelajaran Kontekstual.

Kegiatan ini mengajak mereka mengeksplorasi dua situs budaya penting di Kabupaten Lombok Utara, yakni Masjid Kuno Bayan dan Bale Adat Gumantar.

Humas Universitas Hamzanwadi, Dr. Muhammad Halqi, Minggu 15 Juni 2025 menjelaskan kuliah lapangan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Para mahasiswa terjun langsung untuk mengidentifikasi dan menganalisis konsep-konsep matematika yang hidup dan terpatri dalam arsitektur tradisional.
Mahasiswa akan secara aktif mengeksplorasi berbagai bentuk geometri, pola simetri yang menakjubkan, serta konsep ukur panjang dan luas yang diterapkan secara cermat dalam pembangunan masjid kuno dan bale adat. Selain pengamatan fisik, kegiatan ini juga melibatkan dialog mendalam.
Mahasiswa melakukan wawancara dengan tokoh adat setempat untuk menggali nilai-nilai filosofis yang melandasi struktur bangunan serta praktik budaya terkait, yang mencerminkan logika dan struktur berpikir matematis masyarakat Lombok Utara.
Koordinator Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Hamzanwadi, Dr. Sri Supiyati, M.Pd.Si., menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam membentuk calon pendidik. “Kuliah lapangan ini dirancang untuk memperluas perspektif mahasiswa,” ujarnya.
Ditambahkan, mahasiswa juga tidak hanya mempelajari matematika sebagai ilmu eksak murni di ruang kelas, tetapi langsung menyaksikan dan mengalami bagaimana matematika hidup, bernafas, dan melekat erat dalam budaya dan kearifan lokal masyarakat. Masjid Kuno Bayan dan Bale Adat Gumantar merupakan laboratorium alam dan media pembelajaran yang sangat kaya akan unsur etnomatematika.
Dr. Supiyati menambahkan pengalaman lapangan ini sejalan dengan visi prodi untuk mencetak guru-guru matematika masa depan yang kreatif, adaptif, dan terampil mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam proses pembelajaran. “Memahami etnomatematika adalah kunci untuk membuat pembelajaran matematika lebih bermakna dan relevan bagi siswa, terutama dalam konteks lokal mereka,” jelasnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan dan dukungan penuh dari tokoh masyarakat serta pengelola situs budaya di Bayan dan Gumantar. Kolaborasi ini memungkinkan mahasiswa memperoleh pemahaman yang utuh dan autentik.
Sebagai tindak lanjut, para mahasiswa ditantang untuk menyusun bahan ajar kontekstual berbasis etnomatematika yang diangkat dari temuan mereka di lapangan. Bahan ajar ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran inovatif yang menghubungkan teori matematika dengan konteks budaya nyata.
Melalui inisiatif seperti kuliah lapangan etnomatematika ini, Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Hamzanwadi secara konsisten mendorong terciptanya inovasi pembelajaran. Pendekatan ini tidak hanya menjawab tuntutan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi dan kontekstual, tetapi juga turut serta aktif dalam upaya pelestarian dan pendokumentasian kearifan lokal Indonesia, khususnya di bidang matematika, untuk dunia pendidikan yang lebih kaya dan relevan.(rus)